Manfaat
Katalog Dulu dan Kini
Oleh :
Made Indri
Karlinda Wirata
1712312004
Program
Studi D3 Perpustakaan
Fakultas
Ilmu Sosial dan Ilmu politik
Universitas
Udayana
Abstrak
Tujuan dari
paper ini adalah untuk mengetahui apa
itu katalog,pengertian katalog,
manfaat dari adanya katalog. Karna dari zaman ke zaman katalog
bertransformasi menjadi lebih canggih, dari catalog buku menjadi katalog online
Paper ini
akan memberikan informasi tentang macam macam catalog yang ada saat ini, dari
dulu terciptanya catalog hingga catalog yang sudah benar benar modern. Karena
saat ini catalog sudah berubah atau beralih dari catalog buku menjadi catalog
online yang menggunakan internet.
Kata kunci : katalog, katalog buku, katalog
online,
Latar belakang
Penggunaan
katalog sangatlah banyak manfaatnya bagi pengguna. Katalog merupakan wakil dari
bahan pustaka yang dimiliki oleh perpustakaan, maka katalog dapat memberikan
informasi mengenai bahan pustaka tersebut. Katalog dapat mempercepat dan
mempermudah kegiatan penelusuran informasi terhadap bahan pustaka. Katalog adalah daftar
barang yang berada pada suatu tempat. Dengan demikian katalog perpustakaan
adalah daftar bahan pustaka yang ada dalam perpustakaan. Untuk menyampaikan
kepada pemakai bahan pustaka apa yang dimiliki perpustakaan, disediakan katalog
yang mencatat ciri masing-masing bahan pustaka yang diperlukan untuk
mengindenfikasikannya dan membedakan satu bahan pustaka dari yang lain. Untuk
mencari kembali bahan pustaka tertentu dalam koleksi perpustakaan, katalog
merupakan alat pencari yang terpenting. Akan sulit sekali, bahkan mustahil,
untuk menggunakan perpustakaan yang sedang besarnya tanpa ada katalog. Dapat
dikatakan bahwa katalog perpustakaan merupakan kunci untuk menemukan bahan pustaka
dalam koleksi perpustakaan.
Perpustakaan sebagai tempat
penyedia informasi, tentunya memiliki koleksi yang tidak sedikit. Selain itu,
perpustakaan juga tidak hanya memiliki koleksi dengan hanya satu bentuk dan
jenis saja. Perpustakaan tidak hanya memiliki koleksi yang tercetak seperti
buku, koran, majalah, dan jurnal saja. Namun juga memiliki koleksi dalam bentuk
elektronik seperti e-book, CD-ROM, dan lain-lain. Sebagai penyedia
informasi perpustakaan dituntut untuk mampu melayani pemustaka (user) dengan
waktu yang relatif cepat untuk memberikan kepuasan layanan bagi pemustaka
(user). Dengan memperhatikan jumlah koleksi di perpustakaan yang begitu banyak
dan dengan bentuk yang berbeda pula serta tuntutan dari pemustaka (user) yang
menginginkan efisiensi waktu yang relatif cepat, maka perpustakaan membutuhkan
suatu sistem temu kembali informasi (retrieval system) yang akan
memudahkan para pemustaka (user) dan juga pengelola informasi
(Pustakawan) dalam menemukan kembali informasi yang dibutuhkan. Sistem temu
kembali (retrieval system) tersebut salah satunya adalah dengan
menggunakan alat temu kembali (retrieval tool) yang berupa katalog atau
indeks yang akan membantu pemustaka (user) dan juga pengelola
(Pustakawan) untuk dapat menemukan koleksi atau informasi yang dibutuhkan.
Manfaat katalog pada
umumnya adalah Sebagai sarana untuk mengetahui buku-buku apa saja yang ada
pada satu atau beberapa perpustakaan, Untuk mengetahui buku-buku apa
saja yang ada di suatu perpustakaan lain, Untuk mengetahui buku-buku apa saja
yang ada di pasaran agar dibeli, Untuk mengetahui buku-buku apa saja yang ada
dan diterbitkan di dalam suatu Negara, Sebagai sarana pemilihan koleksi untuk
perpustakaan, dan Sebagai sarana promosi buku bagi toko buku/penerbit
Definisi
atau pengertian katalog
Katalog
berasal dari bahasa latin “catalogus” yang berarti daftar, dalam
pengertian umum katalog diartikan sebagai daftar nama-nama, judul dan
barang-barang. Dalam sejarah kepustakawanan, katalogisasi atau pengkatalogan (cataloguing,
catalogieseren) merupakan keterampilan yang sudah dimiliki sejak
berabad-abad lamanya, sebagai senarai inventaris. (Sulistyo-Basuki, 1991)
Dalam dunia perpustakaan catalog diartikan
sebagai daftar koleksi dapat berupa buku yang diatur menurut sistem atau cara
tertentu, itu bertujuan untuk memudahkan kembali bahan pemustaka yang
dibutuhkan pemustaka atau petugas perpustakaan.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia
(2001) : katalog merupakan secarik kartu, daftar atau buku yang memuat
nama benda atau informasi tertentu yang ingin disampaikan, disusun secara
berurutan, teratur dan alfabetis: kartu membantu memudahkan orang mencari buku
di perpustakaan; berkas katalog yang dibuat pada slip kertas yang diikat di
jilid berkas untuk memungkinkan adanya penyisipan bahan baru yang tepat
susunannya. Katalog juga merupakan gambaran dari fisik sebuah dokumen.
Hasil pokok dari kegiatan katalogisasi adalah penyusunan dari bahan pustaka dan
pemeliharaan katalog yang memberikan akses utama kepada koleksi
Sulistyo Basuki (1991) mengungkapkan dalam
bukunya Pengantar Ilmu Perpustakaan bahwa definisi dari
katalog perpustakaan adalah daftar buku dalam sebuah perpustakaan atau dalam
sebuah koleksi. Daftar ini yang menunjukkan adanya susunan menurut prinsip
tertentu sedangkan buku mencangkup arti buku dalam arti luas
Katalog perpustakaan adalah daftar semua
bahan pustaka (buku, majalah, kartografi, kaset, keping CD dan lain-lain)
yang ada di perpustakaan dengan dilengkapi oleh semua cantuman bibliografis
sesuai dengan sistem yang telah ditentukan pada katalog untuk semua jenis bahan
pustaka yang dimiliki perpustakaan. Hal ini diharapkan dapat membantu Pemustaka
(user) maupun Pengelola (Pustakawan) untuk menemukan kembali bahan
pustaka yang diperlukan dengan cepat dan tepat. Untuk memudahkan proses
pertukaran informsi perlu adanya keseragaman katalogisasi. Maka kemudian pada tahun 1967
diterbitkanlah suatu peraturan / pedoman katalogisasi internasional,
yaitu Anglo American Cataloging Rules (AACR2). Dan dalam konteks
Indonesia, disusun pula Peraturan Katalogisasi Indonesia, yang diterbitkan
oleh Perpustakaan Nasional.
Tujuan
dan fungsi katalog
Menurut Sulistyo-Basuki (1991) tujuan dari Katalog adalah
sebagai berikut:
·
Memungkinkan seorang menemukan sebuah buku
yang diketahui pengarangnya, judulnya atau subjeknya.
·
Menunjukan buku yang dimiliki perpustakann
oleh pengarang tertentu, berdasarkan subjek tertentu dan dalam jenis literatur
tertentu.
·
Membantu dalam pemilihan buku berdasarkan
edisinya dan berdasarkan karakternya (sastra ataukah berdasarkan topik).
Fungsi Katalog
Charles Ammi Cutter menyebutkan tiga fungsi katalog yaitu
:
·
Memungkinkan seseorang menemukan sebuah buku
yang diketahui dari pengarang, judul atau subyeknya.
·
Menunjukkan apa yang dimiliki suatu
perpustakaan oleh pengarang tertentu, pada subyek tertentu, dalam jenis
literatur tertentu.
·
Membantu dalam pemilihan buku berdasarkan
edisinya atau berdasarkan karakternya (bentuk sastra atau berdasarkan topik)
Fungsi tersebut dikemukakan oleh Cutter lebih dari 100
tahun yang lalu, namun sampai saat ini masih sangat relevan tentunya dengan
beberapa penyesuaian seperti istilah buku sebaiknya diganti dengan istilah
koleksi. Sedangkan untuk katalog induk mempunyai fungsi tambahan antara lain
mempermudah penyalinan katalog (copy cataloguing), mendukung pengawasan
bibliografi (bibliographic control), dan menopang silang layan (inter library
loan).
Qalyubi dkk (2007) menyebutkan fungsi katalog adalah
sebagai berikut :
·
Mencatat karya seseorang pada tajuk yang
sama.
·
Menyusun entri pengarang secara tepat
sehingga semua karya seseorang berada pada tajuk yang sama.
·
Mencatat semua judul bahan pustaka yang
dimiliki suatu perpustakaan.
·
Menunjukkan rujukan silang (cross
reference) dari beberapa istilah atau nama-nama yang sama yang digunakan
sebagai tajuk.
·
Memberikan petunjuk letak/lokasi bahan
pustaka yang disusun pada perpustakaan. memberikan uraian tentang setiap karya
yang dimiliki suatu perpustakaan sehingga pengguna perpustakaan (user) dapat
memperoleh informasi yang lengkap tentag karya itu.
Sedangkan Menurut Kao (2001), fungsi katalog adalah
sebagai beikut:
·
Memungkinkan seseorang menemukan sebuah buku
yang diketahui pengarangnya, judulnya atau subyeknya.
·
Menunjukkan buku yang dimiliki perpustakaan
dari pengarang tertentu, berdasarkan subyek tertentu, atau dalam jenis
literature tertentu.
·
Membantu dalam pemilihan buku berdasarkan
edisinya atau berdasarkan karakternya.
·
Berfungsi sebagai sarana yang sangat
diperlukan oleh staf perpustakaan di bagian pengadaan, pengatalogan, kontrol
inventarisasi dan pekerjaan-pekerjaan referensi
BENTUK FISIK KATALOG
Horgan mengatakan bahwa bentuk katalog yang digunakan di
perpustakaan mengalami perkembangan dari masa ke masa. Perkembangan katalog
perpustakaan nampak dari perubahan bentuk fisiknya. Sebelum katalog terpasang (online) muncul,
telah dikenal berbagai bentuk katalog perpustakaan, dan bentuk yang paling umum
digunakan ialah katalog kartu. Sedangkan menurut Tylor, katalog perpustakaan
yang ada pada saat ini terdiri dari berbagai bentuk fisik antara lain, katalog
berbentuk buku (book catalog), katalog berbentuk kartu (card catalog),
katalog berbentuk mikro (microform catalog), katalog komputer
terpasang (online komputer catalog).
1. Katalog bentuk buku
merupakan katalog yang tersusun dalam 1 buku. Disebut juga katalog tercetak dan
merupakan bentuk katalog yang paling kuno. Katalog bentuk buku memiliki
beberapa keuntungan, seperti mudah digunakan, dapat di bawa ke mana-mana, dan
digandakan dengan mudah. Kerugiannya adalah, sekali dijilid, maka katalog buku
menjadi usang, karena tambahan buku tidak dapat disisipkan ke entri yang sudah
ada.
2. Katalog Berkas atau album
dalam bahasa inggris disebut sheaf cataloguemerupakan
kumpulan kartu yang dijilid menjadi satu menjadi buku atau album.Keuntungannya
adalah mudah digunakan, pengguna dapat menggunakan katalog berkas yang
berbeda-beda. Sedangkan kerugiannya adalah sekali adanya penambahan harus
membongkar berkas, cenderung mudah hilang karena bentuknya lebih kecil dari pada
katalog buku.
3. Katalog Kartu adalah
Katalog kartu adalah bentuk katalog perpustakaan yang semua deskripsi
bibliografisnya dicatat pada kartu berukuran 7.5 x 12.5 cm. Keuntungan katalog
berbentuk kartu ialah bersifat praktis, sehingga setiap kali penambahan buku
baru di perpustakaan tidak akan menimbulkan masalah, karena entri baru dapat
disisipkan pada jajaran kartu yang ada. Kelemahannya adalah satu laci katalog
hanya menyimpan satu jenis entri saja, sehingga pemustaka sering harus antri
menggunakannya, terutama bila melakukan penelusuran melalui entri yang sama.
4. Katalog Cetak merupakan
proses Setelah uraian-uraian katalog disusun menurut system tertentu, kemudian
dicetak menjadi semacam bibliografi sebanyak yang diperlukan. Kelebihan bentuk
ini ialah katalog dapat diperbanyak dan dibawa kemana-mana. Tetapi kelemahannya
tidak dapat menerima entri-entri baru.
5. Katalog COM (Computer
Output Microform) dibuat pada salah satu bentuk microfilm atau microfishe.
Katalog dalam bentuk mikro ini relative lebih murah jika dibandingkan dengan
katalog dalam bentuk buku, dan terbukti bahwa biaya pemeliharaannya lebih murah
daripada katalog kartu. Disisi lain, banyak pelanggan menemukan versi microfiche yang
tidak menyenangkan digunakan. (Taylor, 1992 dalam Hasugian, 2009).
6. Katalog CD-ROM (Compact
Disk Read Only Memory) adalah katalog yang dikemas dalam bentuk CD dan
dioperasikan dengan menggunakan computer.
7. OPAC (Online Public
Access Catalog) adalah Katalog yang tersimpan di komputer, dapat diakses
dari berbagai titik atau lokasi selama titik/lokasi tersebut tergabung dalam
jaringan internet. Menurut Hermanto (2007) OPAC banyak di gunakan pada berbagai
perpustakaan karena memiliki berbagai keuntungan diantaranya :
1. Penelusuran informasi dapat
dilakukan dengan cepat dan tepat.
2. Penelusuran dapat dilakukan
secara bersama-sama tanpa saling mengganggu
3. Jajaran tertentu tidak
perlu di-file
4. Penelusuran dapat dilakukan
dari berbagai pendekatan sekaligus
5. Rekaman bibliografi yang
dimasukkan ke dalam entri katalog tidak terbatas
Pengertian Katalog Online
Katalog online adalah
katalog yang data bibliografinya disimpan dalam database komputer. Untuk
membuat katalog online dibutuhkan perangkat komputer dan program aplikasi
tertentu karena ‘pemanggilan data’ dilakukan dengan menggunakan bahasa komputer.
Contoh : Online Public Access Catalogue (OPAC). Penelusuran
dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan sekaligus, misalnya melalui judul,
subjek, dan sebagainya yaitu dengan menggunakan penelusuran boolean logic.
Katalog online yang semakin
mempermudah kegiatan temu kembali (retrieval) bahan
pustaka di perpustakaan. Contohnya adalah Online Public Access
Catalogue (OPAC). OPAC merupakan sistem pengkatalogan
berbasis komputer yang memiliki pengaruh besar sejak tahun 1980-an. OPAC
menyediakan sarana penelusuran yang mandiri bagi pengguna perpustakaan karena
dapat diakses dimana saja dan kapan saja, tanpa harus mengunjungi perpustakaan
terlebih dahulu dengan menggunakan jaringan LAN, atau WAN .
Keuntungan lain dari adanya
katalog online adalah penelusuran informasi dapat dilakukan dengan cepat, tepat
dan kapasitas besar yang memungkinkan input banyak muatan data bibliografis,
penelusuran dapat dilakukan oleh banyak pengguna perpustakaan dalam waktu yang
bersamaan tanpa saling mengganggu dan tidak sampai terjadi kerumunan atau
antrian sebagaimana mungkin terjadi pada katalog manual, tidak perlu penjajaran
tertentu sebagaimana katalog manual, data bibliografis yang dapat dimasukkan ke
dalam entri katalog tidak terbatas. Apabila OPAC terhubung dengan sistem
sirkulasi maka dapat diketahui apakah koleksi tersebut berada di rak ataukah
sedang dipinjam oleh seorang pengguna perpustakaan. Adanya katalog online
memungkinkan terselenggaranya kerjasama dengan perpustakaan lain sehingga dapat
perpustakaan dapat menyediakan koleksi yang lebih beragam dalam memenuhi
kebutuhan informasi dari penggunanya.
Yang perlu diperhatikan
dalam pembuatan OPAC adalah user interface disesuaikan
dengan karakteristik pengguna, meliputi penempatan menu yang user friendly, pemilihan kata kunci dalam penelusuran
juga akan mempengaruhi ketepatan hasil penelusuran dengan kebutuhan informasi
pengguna perpustakaan.
Pengertian OPAC (Open Public
Access Catalog)
Online Public Access
Catalog yang biasa disebut oleh beberapa perpustakaan sebagai katalog online,
katalog akses online, katalog akses daring perpustakaan, atau katalog akses
umum talian. Menurut Corbin (1985,255) mengatakan online public access catalogmerupakan katalog yang
berisikan cantuman bibliografi dari koleksi satu atau beberapa perpustakaan,
disimpan pada magnetic disk atau media rekam lainnya, dan dibuat secara online
kepada pengguna. OPAC adalah sistem katalog terpasang yang dapat diakses secara
umum dan dapat dipakai pengguna untuk menelusuri data katalog (untuk memastikan
apakah perpustakaan menyimpan karya tertentu untuk mendapatkan informasi
tentang lokasinya dan jika sistem katalog dihubungkan dengan sistem sirkulasi,
maka pengguna dapat mengetahui apakah bahan pustaka yang sedang dicari tersedia
di perpustakaan atau sedang dipinjam.
Menurut Horgan (1994,1)
menyatakan OPAC adalah suatu sistem temu balik informasi, dengan satu sisi
masukan (input) yang menggabungkan pembuatan file yang tercantum dan indeks.
Pengguna dapat menggunakan OPAC untuk menjawab permintaan atau pertanyaan
tertentu dan menjadi salah satu sarana atau alat bantu untuk menelusuri
informasi di perpustakaan yang menggunakan sistem komputer yang terpasang
jaringan LAN (Local Area Network).
Menurut Feather (1997:330)
menyatakan bahwa OPAC adalah suatu pangkatan data dengan cantuman bibliografi
yang biasanya menggambarkan koleksi perpustakaan tertentu. OPAC menawarkan
akses secara online ke koleksi perpustakaan melalui terminal komputer. Pengguna
dapat melakukan penelusuran melalui pengarang, judul, subyek, kata kunci, dan
sebagainya. Misalnya Giant ingin mencari buku tentang metode penelitian
kualitatif dan kuantitatif. Dia tidak perlu repot-repot mencari satu per satu
buku di rak yang belum tentu dapat ditemukan, tetapi dengan OPAC, dia hanya
perlu menuliskan nama pengarangnya yaitu W.Lawrence Neuman atau judul
bukunya Social Reserach Methods (Qualitative and Quantitative Approaches).
Jadi secara umum, OPAC
adalah suatu sistem temu balik informasi berbasis komputer yang digunakan oleh
pengguna untuk menelusuri koleksi suatu perpustakaan atau unit informasi
lainnya.
Sejarah
perkembangan sistem OPAC (Online Public Access Catalog) meliputi:
1.
Tahun 1960 dan Awal Tahun 1970
Pada tahun 1960an, komputer digunakan di
berbagai perpustakaan umum dan perguruan tinggi untuk membantu membuat kalatog.
Pada saat itu, pengoperasian sistem komputer masih berada pada model atau cara
yang sangat variatif sehingga kemungkinan penelusuran informasi dengan katalog
terpasang (online) dianggap masih jauh dari kenyataan. Pada awal 1970an, sejumlah perpustakaan
mulai menggunakan sistemkomputer induk untuk
mengembangkan sistem lokal. Sistem lokal ini didesain dan dirancang oleh staf
dari pusat komputer.
2.
Pertengahan Tahun 1970an
Pada
masa tersebut, komputer mulai menggunakan
proses pengawasan sirkulasi di perpustakaan. Sistem komputer digunakan untuk
tujuan pengumpulan data, khususnya pencatatan peminjaman. COM (Computer Output on Microfilm) menjadi metode yang
terkenal digunakan untuk menghasilkan katalog. Perkembangan teknologi
komunikasi masa kini juga ditandai dengan munculnya sistem kerjasama
pengatalogan dan pemanfaatan bersama diberbagai perpustakaan. Misalnya, di
Inggris LASER (London and South Eastern Library
Region),
dan di Amerika Utara OCLC (Ohio Collehe Library Centre). Sistem kerjasama ini
menghasilkan cantuman kalatog pada komputer untuk sejumlah pepustakaan yang berpartisipasi,
baik dalam bentuk COM atau kartu katalog.
3.
Akhir Tahun 1970an dan Awal tahun 1980an
Pengenalan komputer
mikro (microcomputer) di era ini, mendorong berbagai
perpustakaan semakin mandiri untuk menggunakan fasilitas komputer yang diperoleh
dari perusahaan sebagai pelanggannya dan pengembangan serta perancangan sistem
sendiri (in-house system). Penggunaan komputer mikro menjadi
terkenal karena menyediakan fasilitas untuk melakukan akses secara terpasang
(online) terhadap berbagai simpanan (file) dalam sistem sirkulasi. Sistem komputer yang digunakan pada
masa itu di perpustakaan mampu menelusuri cantuman bibiliografi secara online,
sehingga sistem itu disebut sebagai sistem OPAC. Munculnya sistem OPAC di
sejumlah perpustakaan tertentu, merupakan perkembangan utama yang terjadi dalam
automasi perpustakaan sampai awal tahun 1980an.
4.
Pertengahan Sampai Akhir Tahun 1980an
Pada masa ini, perpustakaan
menggunakan sistem OPAC makin meningkat. Mereka mulai menyediakan sistem yang
terintegrasi untuk manajemen perpustakaan, mencakup modul atau sub-sistem yang
berbeda, seperti pengatalogan, akuisisi, sirkulasi, pengawasan serial, layanan
antar perpustakaan dan juga OPAC. Banyak perpusatkaan yang menyediakan anggaran
khusus untuk pengembangan sistem OPAC. Misalnya, tahun 1985 The Britih Library Reserach and Development menyediakan
anggaran sejumlah 317.395 founduntuk setiap
proyek penelitian sistem OPAC.
5.
Tahun 1990an
Pada tahun 1990an, terlihat perubahan
besar pada sitem manajemen perpustakaan dengan menawarkn kecenderungan dari
sistem milik sendri (proprietary systems)
bergerak ke arah sistem terbuka. Sejumlah permasalahan yang ditemui pada
pengoperasian sistem di masa sebelumnya diinvetarisir dan ditemukan bahwa
sejumlah besar sistem yang ada diperpustakaan pada thaun 1980an hanya bisa dijalankan
pada perangkat keras (hardware) seperti
DOBIS/LIBID, Geac, LIBERTAS dan URICA.
Tujuan dn fungsi OPAC
Menururt Siregar
(2004 : 57) menyatakan bahwa peralihan manual ke bentuk online, disamping
banyak menghemat waktu pengguna dalam penelusuran, juga mampu meningkatkan
efisiensi pekerjaan pengatalogan bahan pustaka baru. Katalog elektronikterbukti mampu
mempromosikan koleksi perpustakaan sheingga penggunanya semakin tinggi.
Menurut Kusmayadi
(2006 : 53) Tujuan penyediaan OPAC adalah:
1.
Pengguna dapat mengakses secara langsung ke
dalam pangkala data yang dimiliki perpustakaan.
2.
Mengurangi beban biaya dan waktu yang
diperlukana dan yang harus dikeluarkan oleh pengguna dalam mencari informasi.
3.
Mengurangi beban pekerjaan dalam pengelolaan
pangkalan data sehingga dapat meningkatkan efisiensi tenaga kerja.
4.
Mempercepat pencarian informasi.
5.
Dapat melayani kebutuhan informasi maysrakat
dalam jangkauan luas.
Jadi, tujuan penyediaan
OPAC di perpustakaan adalah untuk memberi kepuasan kepada pengguna dan staf
perpustakaan dan mempercepat pencarian informasi yang tersedia di perpustakaan.
Fungsi OPAC
Menurut pendapat Yusup
(1995 : 76), fungsi katalog secara umum adalah sebagai berikut :
1.
Menunjukkan tempat suatu buku atau
bahan-bahan lain dengan menggunakan lambang-lambang angka klasifikasi dalam
bentuk nomor panggil (call number).
2.
Mendaftarakan semua buku dan bahan lain
dengan susunan alfabetis nama pengarang, judul buku, atau subyek buku yang
bersangutan, ke dalam suatu tempat khusus di perpustakaan untuk memudahkan
pencarian entri-entri atau informasi yang diperlukan.
3.
Memberikan kemudahan untuk mencari suatu buku
atau bahan lain di perpustakaan dengan hanya mengetahui salah satu dari daftar
kelengkapan buku yang bersangkutan.
Jadi, fungsi katalog adalah
secara umum adalah untuk menunjukkan tempat suatu buku, menginventarisasikan semua
koleksi yang dimiliki perpustakaan, serta memberikan kemudahan untuk mencari
koleksi yang ada di perpustakaan.
Teknik Penelusuran OPAC
Menurut Hasugian (2004: 6)
mengemukakan ada beberapa jenis penelusuran yang dapat dilakukan melalui OPAC,
yaitu:
§ Penelurusan dengan browsing (browse searching).
Penelurusan dengan teknik browse, yaitu
menelusuri dengan memeriksa satu persatu cantuman dari dokumen yang ada, proses
ini memang akurat, akan tetapi membutuhkan waktu yang lama sehingga kurang
efisien untuk dilakukan.
§ Penelusuran kata kunci (keyword searching). Penelurusan dengan menggunakan kata
kunci (keyword) tertentu sebagai query. Kata kunci bisa beruba istilah/kata yang
dirumuskan secara bebas atau kata/istilah baku/standar.
§ Penelusuran terbatas (limited searching). Penelusuran dengan melakukan
pembatasan kepada ruas data tertentu, pembatasan database tertentu, pembatasan tahun, tertentu,
pembatasan bahasa, negara, dan sebagainya.
Menurut Saleh (1996 :
76-81) Teknik penelusuran OPAC terbagi dalam lima bagian, yaitu:
§ Penelusuran dengan kamus
istilah. Penelusuran menggunakan istilah yang sudah dibuat oleh CDS atau ISIS
pada saat mengindeks suatu ruas atau sub ruas.
§ Penelusuran bebas. Pengguna
bebas mengetikkan apa saja yang ingin dicari karena sistem ini merupakan
pengganti katalog.
§ Penelusuran dengan
ekspresi Boolean. Penelurusan dengan Boolean ini memungkinkan
pengguna untuk mendapatkan umpan balik informasi yang lebih tepa sesuai dengan
apa yang diinginkan.
§ Penggunaan teknik ANY
merupakan cara mengelompkkkan istilah yang dapat dipakai sebagai penelusuran.
§ Pemotongan istilah.
Pemotongan istilah digunakan apabila akan menjaring seluruh kata yang ada dalam
basis data yang diminta dalam bentuk query.
Keuntungan OPAC
Menurut Hermanto
(2007 : 1) OPAC memiliki keuntungan, yaitu:
1.
Penelusuran informasi dapat dilakukan secara
cepat dan tepat.
2.
Penelusuran dapat dilakukan di mana saja tidak
harus datang ke perpustakaan dengan catatan sudah online ke internet.
3.
Menghemat waktu dan tenaga.
4.
Pengguna dapat mengetahui keberadaan koleksi
dan status koleksi apakah sedang dipinjam atau tidak.
5.
Pengguna mendapatkan peluang lebih banyak
dalma menelusuri bahan pustaka.
Sedangkan menurut Fatahi
dalam Hasugian (2004 : 9) menyatakan bahwa OPAC memiliki beberapa
kelebihan dari katalog kartu yaitu sisi penelusuran mencakup interaksi (interaction), bantuan pengguna (user assistance), kepuasan pengguna (user satisfaction), kemampuan penelusuran (searching capabilities), keluaran dan tampilan (out and display), ketersediaan dan akses (availabilitu and access).
Kerugian OPAC
berbagai keuntungan, OPAC
juga memiliki peluang kekurangan. Menurut Hermanto (2007 : 1) adalah:
1 .Belum semua bahan
pustaka masuk ke data komputer sehingga pengguna mengalami kesulitan dalam
melakukan penelusuran.
2 .Tergantung aliran listrik, bila listrik mati maka
kegiaan penelusuran bahan pustaka akan terganggu.
3 .Kurangnya ketersediaan
komputer terminal OPAC untuk menelusuri informasi yang dimiliki perpustakaan.
Kesimpulan
Penggunaan
katalog sangatlah banyak manfaatnya bagi pengguna. Katalog merupakan wakil dari
bahan pustaka yang dimiliki oleh perpustakaan, maka katalog dapat memberikan
informasi mengenai bahan pustaka tersebut. Katalog dapat mempercepat dan
mempermudah kegiatan penelusuran informasi terhadap bahan pustaka. Katalog adalah daftar
barang yang berada pada suatu tempat. Dengan demikian katalog perpustakaan
adalah daftar bahan pustaka yang ada dalam perpustakaan. Untuk menyampaikan
kepada pemakai bahan pustaka apa yang dimiliki perpustakaan, disediakan katalog
yang mencatat ciri masing-masing bahan pustaka yang diperlukan untuk
mengindenfikasikannya dan membedakan satu bahan pustaka dari yang lain. Untuk
mencari kembali bahan pustaka tertentu dalam koleksi perpustakaan, katalog
merupakan alat pencari yang terpenting. Akan sulit sekali, bahkan mustahil,
untuk menggunakan perpustakaan yang sedang besarnya tanpa ada katalog. Dapat
dikatakan bahwa katalog perpustakaan merupakan kunci untuk menemukan bahan
pustaka dalam koleksi perpustakaan.
Saran
Berkembangnya zaman
menuntut berkembangnya semua yang ada didunia, dari gaya hidup dan kebiasaan.
Perkembangan zaman membuat saran atau prasarana harus mengikuti alur jaman agar
menjadi lebih modern dan tidak terlihat monoton dan biasa saja. Sama seperti
katalog perpustakaan, kini katalog perpustakaan berkembang dari zaman ke zaman,
membuat semuanya menjadi serba instant dan cepat, sehingga kita tidak susah
dalam mencari informasi saat ke perpustakaan karna sudah ada katalogisasi dan
klasifikasi. Para pustakawan juga tidak bingung dalam memberikan refrensi untuk
para pencari informasi. Saranya adalah agar setiap orang memahami apa itu
katalogisasi agar kita juga tidak membuat pustakawan bingung atau susah mencari
informasi yang akan kita cari.
Daftar pustaka
https://nikiartha.wordpress.com/2013/01/19/katalog-online
/PengertianKatalog Online. Diakses 13 Februari 2018
https://donyprisma.wordpress.com/2012/06/30/katalog-perpustakaan
/Fungsi
dan Bentuk Katalog. Diakses 13 Februari 2018
Fahmi,
Yusri. (2015). Katalog Perpustakaan di Era World Wide Web: Redefinisi Tujuan
dan Fungsi Katalog Perpustakaan. Diakses 12 Februari 2018